Assalamuaalaikum Warahmatullah

Senin, 09 Oktober 2017

1.4 Pengertian Profesi dan Profesionalisme

            Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris "Profess", yang dalam bahasa Yunani adalah "Επαγγελια", yang bermakna: Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen. Dengan kata lain profesi adalah suatu pekerjaan yang memerlukan pelatihan maupun penguasaan terhadap ilmu pengetahuan tertentu. Atau profesi juga sering di artikan sebagai pekerjaan yang memerlukan pelatihan dan keahlian khusus. Umumnya setiap profesi memiliki asosiasi, memiliki kode etik, memiliki sertifikasi, dan memiliki lisensi khusus untuk bidang profesi tertentu. Orang yang memiliki profesi dalam bidang tertentu biasanya sering di sebut dengan profesional. Profesional juga sering sekali di artikan sebagai keahlian teknis yang dimiliki oleh seseorang. Misalnya seorang akuntan yang memiliki keahlian yang berkualitas dalam membuat laporan keuangan.

            Adapun pengetian profesionalisme menurut para ahli adalah sebagai berikut :

  • Kiki Syahnarki, Profesionalisme adalah roh yang menggerakan, mendorong, mendinamisasi dan membentengi TNO dari tendensi penyimpangan serta penyalahgunaannya secara Internal maupun eksternal. 
  • Onny S. Prijono,  Profesionalisme adalah kemampuan untuk memasuki ajang kompetisi sebagai antisipasi menghadapi globalisasi. 
  • Pamudji (1985), Profesionalisme adalah lapangan kerja tertentu yang diduduki oleh orang-orang yang memiliki kemampuan tertentu pula. 
  • Aholiab Watloly, Profesionalisme adalah sikap sesorang profesional atau profi. 
  • Korten & Alfonso (1981), Profesionalisme adalah kecocokan (fitness) antara kemampuan yang dimiliki oleh birokrasi (bureaucratic-competence) dengan kebutuhan tugas (ask-requirement).
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Profesi
http://www.pengertianku.net/2017/07/pengertian-profesi-dan-contohnya.html

1.3 Basis (Dasar) Teori Etika

  1. Etika Teleologi
        
    Teleologi berasal dari bahasa Yunani yaitu telos yang memiliki arti   tujuan. Dalam hal mengukur baik buruknya suatu tindakan yaitu berdasarkan tujuan yang akan dicapai atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan dari tindakan yang telah dilakukan.
    • Egoisme Etis
             Pandangan egoisme adalah tindakan dari setiap orang yang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadi hedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.
    • Utilitarianisme
             Berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.
  2.  Deontolologi
         Deontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu deon yang memiliki arti kewajiban. Jika terdapat pertanyaan “Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak karena buruk?”. Maka Deontologi akan menjawab “karena perbuatan pertama menjadi kewajiban kita dank arena perbuatan kedua dilarang”. Pendekatan deontologi sudah diterima oleh agama dan merupakan salah satu teori etika yang penting.
  3. Teori Hak  
         Dalam pemikiran moral saat ini, teori hak merupakan pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Teori hak ini merupaka suatu aspek dari teori deontologi karena berkaitan dengan kewajiban. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia adalah sama. Oleh karena itu, hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis
  4. Teori Keutamaan ( Virtue )
        
    Dalam teori keutamaan memandang sikap atau akhlak seseorang. Keutamaan bisa didefinisikan sebagai disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan seseorang untuk bertingkah laku baik secara moral. Contoh sifat yang dilandaskan oleh teori keutamaan yaitu kebijaksanaan, keadilan, suka bekerja keras dan hidup yang baik

Sumber :
http://brammono06.blogspot.co.id/2014/11/makalah-etika-profesi-akuntansi.html
http://putrioktavianii.blogspot.co.id/2014/11/basis-teori-etika.html
https://www.coursehero.com/file/11555428/Makalah-Etika-Profesi-Akuntansi/

Jumat, 06 Oktober 2017

1.2 Prinsip-prinsip Etika

             Keanggotaan dalam Ikatan Akuntan Indonesia bersifat sukarela. Dengan menjadi anggota, seorang akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga disiplin diri di atas dan melebihi yang disyaratkan oleh hukum dan peraturan.
            Prinsip Etika Profesi dalam Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia menyatakan pengakuan profesi akan tanggungjawabnya kepada publik, pemakai jasa akuntan, dan rekan. Prinsip ini memandu anggota dalam memenuhi tanggung-jawab profesionalnya dan merupakan landasan dasar perilaku etika dan perilaku profesionalnya. Prinsip ini meminta komitmen untuk berperilaku terhormat, bahkan dengan pengorbanan keuntungan pribadi.

1. Prinsip Integritas
            Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan bagi anggota dalam menguji semua keputusan yang diambilnya. Prinsip integritas ini mewajibkan setiap akuntan (professional) bersikap lugas dan jujur dalam semua hubungan professional dan hubungan bisnisnya. Artinya integritas adalah berterus terang dan selalu mengatakan yang sebenarnya. Akuntan professional diharuskan tidak boleh terkait dengan pernyataan resmi, laporan, komunikasi atau informasi lain ketika akuntan meyakini bahwa informasi tersebut terdapat: 
  •  Kesalahan material atau pernyataan yang menyesatkan. 
  •  Informasi atau pernyataan atau yang dilengkapi secara sembarangan
  •  Penghilangan atau pengaburan informasi yang seharusnya diungkapkan sehingga akan menyesatkan.
          Saat meyadari bahwa dirinya dikaitkan dengan informasi semacam tersebut, maka akuntan professional mengambil keputusan dan langkah-langkah yang diperlukan agar tidak dikaitkan dengan informasi tersebut

2. Prinsip Obyektivitas
            Obyektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain. Akuntan professional mungkin dihadapkan pada situasi yang bisa saja mengganggu objektivitasnya, namun semua anggota tidak akan memberikan layanan professional jika suatu keadaan atau hubungan menyebabkan terjadi bias atau dapat memberi pengaruh yang berlebihan pada pertimbangan profesionalnya.

3. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
            Prinsip kompetensi dan kehati-hatian profesional mengharuskan setiap anggota Akuntan Profesional untuk :
  • Memelihara pengetahuan dan keahlian professional yang dibutuhkan untuk menjamin pemberi kerja (klien menerima layanan yang profesional dan kompeten).
  • Bertindak tekun dan cermat sesuai teknis dan professional yang berlaku ketika memberikan jasa professional.
“ Jasa profesional yang berkompeten mensyaratkan pertimbangan yang cermat dalam menerapkan pengetahuan serta keahlian profesional untuk jasa yang diberikan.”
            Seorang akuntan professional mengambil langkah-langkah yang rasional untuk menjamin bahwa anggota yang bekerja dibawah kewenangannya telah mendapatkan pelatihan serta pengawasan yang memadai.

4. Kerahasiaan
            Setiap anggota harus, menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya. Kewajiban untuk mematuhi semua prinsip kerahasiaan harus terus dipertahankan, bahkan saat setelah berakhirnya hubungan antara klien dan akuntan. Ketika akuntan mendapat klien baru, berhak menggunakan pengalaman dari sebelumnya. Namun demikian akuntan tetap tidak diperbolehkan mengungkapkan setiap informasi rahasia yang diperoleh dari hubungan professional atau bisnis sebelumnya.

5. Perilaku Professional
            Prinsip perilaku professional mewajibkan setiap akuntan professional mematuhi ketentuan hukum serta peraturan yang berlaku dan menghindari setiap perilaku yang dapat mengurangi kepercayaan pada profesi. Dalam upaya memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaan, akuntan professional sangat tidak dianjurkan mencemarkan nama baik profesi.

6. Tanggungjawab Profesi
            Seorang Akuntan dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai professional, harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan professional terhadap semua kegiatan yang dilaksanakannya. Anggota memiliki tanggungjawab kepada pemakai jasa professional mereka dan tanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota demi mengembangkan profesi akuntansi serta memelihara kepercayaan masyarakat. Semua usaha tersebut diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

7.Standar Teknis
            Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas. Standar teknis dan standar profesional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh lkatan Akuntan Indonesia, International Federation of Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang-undangan yang relevan.

8. Kepentingan Publik
            Anggota akuntan professional berkewajiban untuk bertindak dalam rangka pelayanan kepada public, menghormati kepercayaan publik serta menunjukkan sikap profesionalisme. Salah satu ciri dari profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan juga memegang peranan penting di masyarakat. Arti public dari profesi akuntan meliputi klien, pemerintah, pemberi kredit, pegawai. Investor, dunia bisnis dan keuangan dan pihak-pihak yang bergantung kepada integritas dan obyektivitas akuntan dalam memlihara berjalannya fungsi bisnis dengan tertib. Tugas terpenting setiap anggota adalah menjaga dan mempelihara kepercayaan publik terhadap profesi akuntan.

Sumber :
http://www.akuntansilengkap.com/akuntansi/iai-pengertian-etika-profesi-akuntansi-serta-8-prinsip-dasar-kode-etik-lengkap/
http://openstorage.gunadarma.ac.id

1.1 Pengertian Etika

          Kata etika berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
Etika menurut beberapa ahli :
  • Menurut K. Bertens: etika adalah nilai-nilai dan norma-norma moral, yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur perilaku
  •  Menurut W. J. S. Poerwadarminto: etika merupakan studi tentang prinsip-prinsip moralitas (moral)
  •  Menurut Prof. DR. Franz Magnis Suseno: etika adalah ilmu yang mencari orientasi atau ilmu yang memberikan arah dan pijakan dalam tindakan manusia.
  •  Menurut Drs. O.P. Simorangkir: etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik
Etika secara umum dapat dibagi menjadi :
  1. Etika umum, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat dianalogikan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori
  2.  Etika khusus, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus.
    Etika khusus dibagi lagi menjadi 2 bagian :
    • etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri
    •  etika social, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia. Etika social ini terbagi menjadi banyak bagian atau bidang, diantaranya sikap terhada sesame, etika keluarga, etika profesi, etika politik, etika lingkungan dan etika idiologi
Sumber :
http://www.gurupendidikan.co.id/5-pengertian-etika-menurut-para-ahli/
https://www.slideshare.net/soddikin/etika-profesi-untuk-akuntan
https://www.scribd.com/document/119633514/Etika-Akuntan

Rabu, 28 Juni 2017

Passive Voice dan Causative Have

       Passive voice is a grammatical construction (grammatical form) where the subject of a sentence does not take action, the inauguration receives action or is acted upon by the other agent (actor) either not or not. Contests, on active construction, subject directly to the verb by acting as an actor. Active sentences can be transformed into passive, but only transitive verbs (following direct objects) can be applied.

Rumus Passive Voice :

S + Auxiliary verb + Past participle

       Auxiliary verbs can be primary auxiliary verb be (is, are, am, was, were, be, been, being), a combination of two primary (is/are being, was/were being, has/have been) or between primary and modal auxiliary verb capital (will be, will have been), while the past participle used is a transitive verb.
Example :
- She can not drive a car. (Active voice, transitive).
- He always come on time. (Active voice, intransitive).  
Form past and past forms on a regular or irregular basis.
Example :
- Play (base form) → Played (past participle)
- Sing (base form) → Sung (past participle)

Example Sentive Voice Sentences On Auxiliary Verb BE:

Exception on Transitive Verb 
       Not all transitive verbs, verbs that have direct objects, can be passed. Some of the verbs that include: have, become, lack, look like, mean, etc. will sound unnatural meaning when it is in a state. For  examples of sentences of the verb are as follows :
- I have a great new idea -> can not be classified with : A great new idea is had by me.
- The snack contains aspartame -> can not be parsed with : Aspartame is contained by the snack.

Causative Have 
       Causative have is a sentence in English that means telling, ordering, and even forcing others to do something. In English causative have can use the word HAVE, MAKE, GET, and LET. Basically the order of sentences with causative haves is divided into 2, active and passive.
Causative Have In Active Sentence 

Formula      Subject + HAVE + Object 1 + Verb 1 + Object 2
- Example : I have my sister cook friend rice = I told my sister to cook fried rice In the sentence above, causative haves applied to active sentences.
  In my sense (subject) asked my sister (object) to cook fried rice. Remember after
object, verb 1 (cook) must be used.


Causative Have In Passive Sentences
Formula        Subject + HAVE + Object 
Example : I have fried rice cooked = I request cooked fried rice + Verb 3 
       In the above sentence, causative haves are used in passive times. This means that the first Object does not need to mention the unknown or who was asked to do the activity.
       Remember after the Verb 3 (cooked) object should be used in Word Sentence in Sentence Causative Have The sentence causative have sentences can use HAVE, MAKE, GET, and LET. 

Examples Of Their Use In The Following Sentence:
 - HAVE : We have you wait for a moment
- MAKE : The robbers made us lie on the floor. (No passive form)
- GET : I got Jae Won to pick me up in the car. (Using TO INFINITIVE VERB)
- LET : I'll let you borrow my bike. (No passive form)  
   The meaning of the four words in causative have above all are similar, that is asking someone else to do something. Yet the emphasis is different. If using MAKE, this means command and coercion.

Sample Sentences ACTIVE CAUSATIVE HAVE
1.   The rain has made the tourists stay in the hotel this morning.
2.   I don’t think she can make her husband buy that expensive ring.
3.   Sad movies always make me cry.
4.   Let’s get mother to bake a cake on Sunday.
5.   I couldn’t get my sister to wash my dirty overalls.
6.   The tap is leaking, get a plumber to fix it.
7.   She always gets me to help with her homework.
8.   Lala had her friend take her result test.
9.   The student had the teacher speak slowly.
10. She got her parents to buy her a tennis racket.

Sabtu, 15 April 2017

Kalimat Tesis, Anti-tesis dan Sintesis


§  Tesis merupakan kesimpulan atas sebuah hasil riset ilmiah yang didasari atas bukti-bukti dan pemikiran logis
§  Antithesis adalah hasil sebuah riset ilmiah yang menggambarkan keterbalikan atau sangkalan atas tesis yang ada sebelumnya dengan maksud meluruhkan tesis itu.
§  Sintesis merupakan jawaban atau kesimpulan atas pertentangan yang dibuat antara tesis dan antitesis sehingga menjadi satu hal utuh yang merupakan hasil ilmiah yang baru.

Contoh :
Tesis   : Mahasiswi cenderung berprilaku konsumtif tidak berdasarkan kebutuhan, tetapi didorong oleh hasrat dan keinginan
Anti tesis : Faktor eksternal seperti teman dekat, teman rumah dan lain sebagainya, sangat mempengaruhi untuk menciptakan perilaku yang konsumtif
Sintesis :  Perilaku konsumtif mahasiswi tidak hanya disebabkan oleh adanya hasrat dan keinginan, karena faktor eksternal adalah faktor yang sangat mempengaruhi seseorang untuk berprilaku konsumtif.

        Perilaku konsumtif merupakan kecenderungan manusia untuk melakukan konsumsi tiada batas, membeli sesuatu yang berlebihan atau tidak secara terencana. pada banyak kasus, perilaku konsumtif ini tidak berdasarkan pada kebutuhan, tetapi didorong oleh hasrat dan keinginan. faktor yang sangat mempengaruhi seseorang berprilaku konsumtif adalah faktor eksternal, seperti teman dekat, teman rumah, teman disekitarnya dan lain sebagainya.